Senin, 11 Februari 2013

Capres 2014 Jangan Remehkan Jabatan RI-1


INILAH.COM, Jakarta - Rhoma Irama dan Farhat Abbas mencalonkan diri sebagai Presiden RI dalam Pemilu Presiden (Pilpres 2014). Rhoma seorang pedangdut terkenal dan Farhat seorang pengacara yang populer di kalangan selebriti. Secara normatif keduanya memiliki rekam jejak sesuai dunia dan profesi mereka masing-masing.
Sekalipun hak untuk mencalonkan diri sebagai presiden merupakan hak azasi setiap orang dan merupakan bukti hadirnya demokrasi di Indonesia, tetapi pencalonan mereka terkesan 'tidak serius' atau masih terlalu prematur.
Sehingga tidak heran bila deklarasi pencalonan diri mereka tidak menimbulkan reaksi seperti halnya deklarasi Aburizal Bakrie, Ketua Umum DPP Golkar dan Prabowo Subianto, pendiri Partai Gerindra.
Deklarasi pencalonan Rhoma dan Farhat lebih dilihat seperti sekadar mau menguji reaksi masyarakat. Sejauh mana masyarakat akan bereaksi terhadap manuver (politik) mereka. Kalau dalam istilah yang sedang trending, pencalonan itu baru untuk 'test the water' saja.
Kesan lainnya, Rhoma dan Farhat sedang 'jualan' wacana sekaligus menguji tingkat popularitas mereka di tengah masyarakat. Apakah masyarakat yang galau karena tengah menghadapi keadaan yang serba gaduh bisa melirik dan terpengaruh dengan manuver mereka? Atau apakah masyarakat yang merasa banyak dikecewakan oleh kepemimpinan SBY mau melirik mereka sebagai calon alternatif ?
Rhoma dan Farhat bukanlah orang yang tidak paham terhadap sistem politik di Indonesia. Momentum yang mereka pilih, didasarkan pada pemahaman politik yang mereka kuasai.
Rhoma misalnya walaupun saat ini secara resmi tidak terikat pada satu di antara 10 partai politik peserta Pemilu Legislatif April 2014, tetapi sejatinya ia juga seorang politisi. Jadi Rhoma tergolong selebriti yang cukup melek politik.
Pada Pemilu di 1977 dan 1982, Rhoma sudah menjadi 'vote getter' bagi Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Sehingga secara kontekstual, ia cukup paham tentang perpolitikan di Tanah Air.
Rhoma pasti mengerti tentang sistem pencalonan presiden di era Orde Baru di zaman reformasi. Di Pilpres Juli 2014 nanti, seorang figur hanya mungkin menjadi calon presiden (capres) apabila dicalonkan oleh partai yang meraih kursi di DPR-RI minimum 20% dari 560 kursi yang tersedia.
Ketentuan "Presidential Threshold" ini, bisa dilihat sebagai salah satu usaha dari parpol yang ada untuk mencegah calon-calon yang tidak punya kendaraan politik seperti Rhoma dan Farhat. Ini artinya, belum apa-apa, Rhoma dan Farhat jauh-jauh hari sudah terkendala.
Rhoma saat ini memang sudah dilirik Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) meskipun keputusan partai itu masih belum final. Kalaupun jadi dicalonkan PKB, belum tentu mulus menjadi Capres mengingat saat ini saja partai pimpinan Muhaimin Iskandar itu baru memiliki 28 kursi, masih jauh dari minimal 112 kursi di DPR-RI. Rhoma sebenarnya sedang 'jualan' ke partai-partai politik lain peserta Pemilu Legislatif 2014 itu.
Farhat juga kurang lebih sama dengan Rhoma. Walaupun dari segi usia, suami penyanyi Nia Daniati ini, jauh lebih muda, tetapi cukup melek politik. Sebagai seorang pengacara tentu juga Farhat mengikuti semua perubahan dan perkembangan dalam sistem politik. Dia tahu dengan memasang baliho tentang dirinya di berbagai tempat, hal itu juga sama dengan baliho para tokoh lainnya yang juga tengah mengincer posisi RI-1. Semuanya sedang 'berjudi'.
Persoalan yang tiba-tiba mengemuka dari adanya pencapresan kedua selebriti itu adalah bukan soal pantas dan tidak patutnya mereka menjadi Presiden RI. Melainkan telah menimbulkan kesan jabatan RI-1 sudah didegradasi dan cukup diremehkan. Seolah-olah menjadi Presiden RI per tahun 2014 cukup bermodalkan popularitas dan tekad semata. Persyaratan-persyaratan yang tidak tertulis ataupun rekam jejak seorang capres, tidak lagi diperlukan.
Seseorang yang sudah populer, tak peduli popularitas itu dicapai dari segi apa, sudah cukup menjadi modal kuat untuk menjadi capres bahkan Presiden RI. Seorang figur, kalau sudah sering diberitakan oleh media atau menjadi "media darling", otomatis sudah menjadi sosok yang diterima masyarakat.
Kalau sudah diterima masyarakat sebagai sosok yang terkenal, otomatis masyarakat sudah akan bersetuju untuk memilihnya sebagai Orang Nomor Satu di Indonesia. Begitu sederhana pola argumentasinya.
Rhoma dan Farhat sepertinya terpengaruh oleh kurang gregetnya Presiden SBY sebagai Presiden selama dua periode (2004-2009 dan 2009-2014). Kritik masyarakat terhadap SBY mengalir terus, sehingga jika Rhoma dan Farhat menjanjikan akan lebih baik dari SBY, masyarakat pun otomatis akan melihat mereka sebagai figur yang lebih kapabel.
Atau karena di era SBY, korupsi tetap merajalela, maka kalau capres sudah bisa bersumpah pocong seperti janji Farhat di balihonya, sang sosok, otomatis sudah memenuhi persyaratan untuk menjadi Presiden RI di 2014.
Rhoma dan Farhat mungkin lupa, di luar popularitas dan tekad, masih banyak persyaratan tak tertulis tapi sangat menentukan agar seseorang patut menjadi capres apalagi Presiden RI. Presiden RI di 2014 minimal harus punya konsep bagaimana NKRI lolos dari disintegrasi. Bagaimana membuat Indonesia punya kemampuan bersaing di dunia internasional.
Dan maaf beribu maaf, selama ini, Rhoma dan Farhat belum pernah sekalipun terdengar mewacanakan bagaimana konsep mereka dalam memperkuat persatuan nasional sekaligus keutuhan NKRI.
Sejarah SBY, mulai dari mengapa ia terpilih sebagai Presiden untuk dua kali masa jabatan, termasuk keberhasilan bercampur kegagalannya memimpin Indonesia, sebetulnya sudah cukup berbicara.
Bahwa untuk terpilih di 2004, SBY memerlukan dukungan masif, tidak hanya dari pemilih dalam negeri. Tetapi termasuk non-pemilih yang berada di luar negeri. Non-pemilih atau faktor eksternal ini tidak kelihatan dan mereka pun tidak ingin terlihat atau diketahui. Tetapi peran mereka sebagai "invisible power', cukup menentukan. Belum lagi dukungan dari kalangan dunia usaha.
Yang menjadi pertanyaan, apakah Rhoma dan Farhat memiliki dukungan atau jaringan seperti yang dimaksud di atas? Sejarah kepemimpinan SBY juga membuktikan, sekalipun Partai Demokrat yang menjadi kendaraan politiknya, secara telak memenangkan Pemilu Legislatif 2009, tetapi kenyataannya, SBY tidak berani memimpin Indonesia jika hanya mengandalkan Partai Demokrat. Ia harus berkoalisi.
Yang menjadi pertanyaan, apakah Rhoma dan Farhat sudah mendapat dukungan dari partai yang memiliki suara mayoritas di parlemen seperti yang diperoleh Presiden SBY? Atau siapakah kekuatan politik yang bersedia membentuk koalisi dengan mereka?
Tekad serta semangat Rhoma dan Farhat untuk menjadi Presiden RI di tahun 2014, perlu dihargai oleh siapapun. Tetapi pada saat yang sama mereka juga perlu diingatkan untuk bercermin diri.
Atau kalau Pilpres 2014 diumpamakan seperti sebuah pesta (demokrasi), maka untuk bisa hadir di hajatan nasional itu, Rhoma dan Farhat harus menjadi demokrat sejati. Mereka juga harus tahu ‘baju’ yang cocok yang mereka kenakan ke pesta demokrasi itu. Jangan sampai ‘baju’ yang dikenakan terlalu sempit ataupun kebesaran, sehingga tidak elok dipandang mata.
Keduanya juga perlu lebih tenang di dalam melihat dan menempatkan kursi RI-1. Kursi itu ada nilai sakralnya. Kursi itu hanya patut diduduki oleh figur yang berjiwa negarawan. Jangan sampai terjadi, hanya karena gara-gara semangat dan tekad yang terlalu menggebu, membuat mereka terlanjur meremehkan tugas, pekerjaan dan kewajiban seorang Presiden RI dan negarawan bangsa.
Pelajari ceritera dan filosofi "Telor Colombus". Jangan sesekali meremehkan seorang "pemimpin" yang sudah mencetak prestasi. [mdr]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar